Diskusi baru-baru ini di Jepang menyoroti dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap para profesional kreatif. Ilustrator, seniman manga , dan animator melaporkan kekhawatiran yang semakin meningkat tentang kemajuan teknologi ini, terutama setelah data menunjukkan penurunan pendapatan bagi sebagian pekerja ini.
Menurut survei yang terkait dengan Japan Freelance League, yang diterbitkan pada tahun 2024, sekitar 12% profesional kreatif menyatakan bahwa pendapatan mereka telah menurun. Lebih jauh lagi, banyak yang melaporkan ketidakamanan emosional dalam menghadapi evolusi pesat alat pembuatan gambar berbasis AI.
Reaksi media sosial terhadap penggunaan AI
Di media sosial, topik ini menjadi perbincangan hangat dengan beragam pendapat. Sebagian orang percaya bahwa seniman perlu beradaptasi dan berkembang, sementara yang lain berpendapat bahwa AI menciptakan persaingan yang tidak adil, terutama bagi mereka yang bergantung pada karya sederhana atau karya berdasarkan pesanan.
Perbandingan juga telah dibuat mengenai dampak fotografi di masa lalu. Beberapa pengguna menunjukkan bahwa seni tradisional tidak menghilang, tetapi dipaksa untuk menemukan kembali dirinya. Meskipun demikian, kecepatan kemajuan teknologi saat ini telah menyebabkan guncangan yang lebih besar pada sektor ini.
AI sudah mengubah pasar visual, dan berdampak pada para ilustrator

Poin lain yang disebutkan mengenai dampak AI pada ilustrator melibatkan peningkatan penggunaan alat generatif dalam periklanan, termasuk kampanye dengan estetika anime. Hal ini mengurangi biaya bagi perusahaan, tetapi juga mengurangi peluang bagi seniman lepas yang sebelumnya mengisi ruang ini dengan ilustrasi orisinal.
Di sisi lain, sebagian orang melihat AI sebagai alat pendukung yang mampu menyederhanakan proses kreatif. Meskipun demikian, diskusi tetap terbuka, dengan keraguan tentang masa depan profesi ini dan nilai pekerjaan manusia di dunia digital.
Untuk berita lebih lanjut tentang dunia anime, terus ikuti AnimeNew dan tetap dapatkan informasi terkini tentang musim anime dan tren pasar.
Sumber: Yaraon
