Membawa game-game Jepang berskala kecil ke Xbox masih merupakan tantangan nyata. Seorang Edelweiss berkomentar bahwa, bagi studio dengan tim yang ramping, ekspansi ke Microsoft pada akhirnya menjadi tidak layak dalam Jepang.
- Neverness to Everness Viral karena Area yang Mirip Exit 8
- Neymar Jadi Ninja dan Gunakan Rasengan di Event eFootball
Koichi, seniman karakter untuk Sakuna: Of Rice and Ruin, menjelaskan bahwa masalahnya bukan hanya teknis. Menurutnya, Xbox memiliki kehadiran yang lemah di toko fisik Jepang, yang secara langsung berdampak pada jangkauan komersialnya dan menghambat investasi.
Pasar Jepang membatasi ekspansi

Dalam sebuah interaksi di media sosial, Koichi menyebutkan bahwa, meskipun ia secara pribadi menyukai konsol tersebut sejak versi pertamanya, timnya tidak dapat menangani begitu banyak platform secara bersamaan. Hal ini memperkuat bagaimana keterbatasan sumber daya sangat membebani studio independen.
XBOX..,..,..,..,..,は手広くプラットフォーム展開していけないんですよ。日本だと量販店に置いてすらいませんしね… https://t.co/jeGfLjeB34
— こいち (@y_koichi) 28 April 2026
Situasi tersebut semakin menarik perhatian setelah sebuah komentar yang mengisyaratkan Sakuna 2, yang membuat para penggemar mempertanyakan kemungkinan perilisan di Xbox. Terlepas dari permintaan yang terus-menerus, tanggapan pengembang memperjelas bahwa rencana tersebut tidak mencakup platform tersebut.
Sejarah Xbox di Jepang
Situasi ini bukanlah hal baru. Xbox telah menghadapi kesulitan historis di Jepang, dengan penjualan jauh di bawah para pesaing lokal. Contoh yang menarik adalah Wii U, yang dianggap sebagai kegagalan komersial global, justru terjual lebih banyak daripada gabungan penjualan semua konsol Xbox di negara tersebut.
Konteks ini membantu memahami mengapa proyek-proyek yang lebih kecil menghindari risiko tambahan. Pada akhirnya, keputusan seperti ini melibatkan strategi, ruang lingkup, dan kelayakan finansial. Terakhir, untuk berita lebih lanjut tentang game Jepang dan dunia geek, terus ikuti AnimeNews.
Sumber: Games Radar
