Iklan

PBB mengkritik stereotip dalam anime dan manga

Stefani Couto
Berlatar belakang jurnalistik, dan bersemangat bermain game! Saya menulis tentang game, trivia, dan panduan untuk membantu pemain lain menjelajahi alam semesta yang luar biasa ini.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyatakan keprihatinannya, menyoroti potensi manga, anime, dan permainan video di Jepang untuk mempromosikan stereotip gender dan kekerasan seksual. Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada 30 Oktober, Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan mengkritik konten budaya ini. Menurut komite tersebut, media ini dapat memperkuat pandangan diskriminatif, melanggengkan stereotip dan representasi yang tidak pantas.

Menanggapi laporan tersebut, pihak berwenang dan politisi Jepang menyampaikan kritik, terutama anggota parlemen Yamada Taro. Ia mempertanyakan dasar laporan tersebut, dan meminta agar Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan bersikap transparan mengenai sumber dan metodologi yang digunakan dalam analisis tersebut.

Dokumen tersebut merekomendasikan agar Jepang menerapkan langkah-langkah hukum dan program pemantauan yang bertujuan untuk membatasi materi yang, menurut pandangan PBB, memperkuat stereotip gender dan mempromosikan kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan.

Namun, Taro menyatakan bahwa pihak berwenang Jepang belum mengkonfirmasi adanya diskusi tentang manga dan anime dalam pertemuan dengan komite tersebut. Menurutnya, isi laporan tersebut merupakan ancaman terhadap kebebasan berekspresi di Jepang, karena berupaya mengatur produksi budaya tanpa dialog yang tepat dengan sektor kreatif dan masyarakat Jepang.

PBB menyerukan tindakan terhadap stereotip gender dalam manga dan gim Jepang

PBB menyarankan agar pemerintah Jepang mengintensifkan tindakan untuk memerangi stereotip gender di media, termasuk manga dan permainan video. Di antara rekomendasi tersebut, dokumen ini memperkuat perlunya strategi komprehensif yang bertujuan untuk mempromosikan pandangan yang seimbang di berbagai sektor, termasuk pendidikan dan pasar tenaga kerja.

Lebih lanjut, laporan tersebut menekankan perlunya memerangi pesan-pesan seksis dan representasi stereotip terhadap perempuan dan anak perempuan di media dan jejaring sosial. PBB menekankan bahwa konten ini cenderung melanggengkan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan, terutama di kalangan minoritas etnis seperti Ainu, Buraku, dan Korea Zainachi.

Mitsuri Kanroji dari Pembunuh Iblis
Foto: Milik Ufotable

Reaksi di Jepang: Kebebasan berekspresi dan kebijakan kesetaraan

Yamada Taro menyatakan keprihatinannya tentang dampak laporan tersebut terhadap kebebasan berekspresi, khususnya untuk sektor anime dan manga, yang sangat penting dalam budaya Jepang. Menurut Taro, rekomendasi komite tersebut bersifat sepihak dan menyarankan bentuk sensor yang dapat merusak keragaman budaya di negara tersebut. Ia percaya bahwa anime dan manga bukan hanya bentuk hiburan tetapi juga ekspresi artistik yang berakar kuat dalam masyarakat Jepang.

Namun, PBB memuji Rencana Dasar Kelima Jepang untuk Kesetaraan Gender, yang bertujuan untuk menghilangkan prasangka dan meningkatkan kesadaran akan kesetaraan gender. Meskipun demikian, komite tersebut menunjukkan bahwa sikap patriarki masih berlaku di sektor-sektor seperti pendidikan dan pekerjaan, yang menghambat kemajuan yang lebih efektif bagi perempuan.

Rekomendasi PBB untuk memerangi stereotip dalam produk budaya

Organisasi tersebut merekomendasikan pembentukan kebijakan nasional untuk mengatasi stereotip gender, khususnya yang berkaitan dengan kelompok etnis minoritas. Usulan tersebut mencakup pelatihan bagi pegawai negeri dan jurnalis, dengan pedoman tentang penggunaan bahasa netral gender dan promosi representasi positif perempuan di media.

Debat seputar isu ini memunculkan diskusi tentang keseimbangan antara kebebasan artistik dan kebutuhan untuk mengatasi masalah struktural ketidaksetaraan. PBB menekankan bahwa, sambil mengakui kekhasan budaya setiap negara, mereka melihat promosi kebijakan yang tidak melanggengkan stereotip sebagai hal yang penting. Organisasi tersebut menyarankan agar pedoman yang diusulkan disertai dengan investasi dan evaluasi berkala untuk memastikan implementasi yang efektif.